Rabu, 29 Februari 2012

analisis pengaruh suku bunga deposito, inflasi dan kurs rupiah terhadap harga saham pada industri perbankan di bursa efek jakarta (periode tahun 2004-2005)


Perkembangan dunia usaha dewasa ini menuntut para pengusaha untuk lebih tanggap terhadap setiap perubahan yang terjadi di sekelilingnya. Perusahaan yang unggul dan kompetitif yang akan mampu bertahan dalam persaingan yang semakin ketat dewasa ini dan demikian pula sebaliknya. Untuk dapat memenangkan persaingan setiap perusahaan harus memiliki kinerja perusahaan yang baik. Kinerja perusahaan akan sangat berpengaruh pada perusahaan itu sendiri baik pada investor yang menanamkan modalnya maupun investor yang akan menanamkan modalnya pada suatu perusahaan
Investor sebagai pihak yang memegang peranan penting dalam menentukan nilai saham suatu perusahaan akan melihat kondisi kinerja perusahaan yang
baik dan dianggap akan dapat memberikan keuntungan yang besar baginya. Investor dalam menentukan kemana ia akan menginvestasikan dananya akan sangat tergantung dari kondisi perekonomian dan keadaan politik negara yang akan mendukung perkembangan pasar modal serta kesediaan perusahaan untuk melakukan full disclosure (penyingkapan penuh) di pasar bursa sehingga akan memberikan informasi yang cepat dan tepat. Dengan demikian investor akan mendapatkan informasi yang diperlukan guna mengambil keputusan yang tepat dalam membeli saham.
Pasar modal dirancang untuk investasi jangka panjang. Pasar modal memungkinkan perusahaan menerbitkan saham maupun obligasi untuk mendapatkan dana segar dari masyarakat. Penjualan saham kepada masyarakat (go public) sebagai salah satu alternatif sumber pembiayaan, selain memberikan dampak yang positif terhadap struktur permodalan perusahaaan, kemampuan perusahaaa untuk menghindarkan diri dari kondisi debt to equity ratio (yaitu perbandingan antara utang dan modal sendiri) yang terlalu tinggi, juga meningkatkan kemampuan perusahaan untuk melakukan investasi pada proyek-proyek perluasan (ekspansi) maupun penganekaragaman usaha (diversifikasi).
Kondisi perekonomian yang kurang stabil akan sangat mempengaruhi perkembangan pasar modal dan cenderung akan membuat kegiatan pasar modal menjadi sepi. Apabila kondisi tingkat inflasi tinggi akan mengakibatkan tingginya tingkat suku bunga tabungan terutama deposito. Hal ini dapat menghambat perkembangan pasar modal karena masyarakat cenderung menginvestasikan dananya pada sektor perbankan yang tidak memiliki resiko sama sekali jika dibandingakn dengan menginvestasikan dananya di pasar modal. Terlepas dari hal tersebut melemahnya kurs mata uang Rupiah terhadap mata uang asing terutama Dollar Amerika Serikat merupakan sinyal negatif bagi perekonomian yang mengalami inflasi karena akan meningkatkan biaya import bahan baku dan juga akan memberatkan bagi perusahaan yang mempunyai utang luar negeri dengan kurs dollar, hal ini akan menurunkan profitabilitas perusahaan.
Untuk mengatasi masalah rendahnya nilai tukar (kurs) Rupiah terhadap Dollar Amerika dan beberapa mata uang asing lain mulai tahun 1997 sampai awal tahun 1998 Bank Sentral Indonesia (BI) melakukan penaggulangan yang antara lain dengan cara menaikkan suku bunga Bank Indonesia melalui Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Kebijakan yang diambil oleh Bank Sentral ini mengakibatkan naiknya suku bunga deposito bank-bank komersial di Indonesia. Naiknya suku bunga ini juga berdampak pada naiknya suku bunga pinjaman. Bagi perusahaan (go public) yang tingkat perbandingan antara hutang dan modal sendiri tinggi, akan mengakibatkan biaya pinjaman dan biaya modal semakin tinggi. Tingginya biaya modal akan menurunkan laba yang berakibat menurunnya deviden sehingga pemodal terutama yang peka terhadap deviden akan menjual saham dan pada gilirannya akan menurunkan harga saham, hal ini berarti menurunkan nilai perusahaan. Naiknya suku bunga deposito berjangka juga akan menyebabkan pemodal akan menanamkan dananya pada deposito, dan akibatnya pada emiten akan menurunkan kinerja perusahaan sehingga laba akan turun. Tingkat suku bunga akan mencapai puncaknya apabila terjadi inflasi, hal ini terjadi karena pada masa inflasi pemerintah biasanya berusaha untuk menurunkan tingkat inflasi tersebut. Salah satu cara untuk menurunkan tingkat inflasi adalah menaikkkan tingkat suku bunga bank.
Akan tetapi, kalau bunga deposito/tabungan naik, maka bunga kredit juga harus diatas bunga deposito. Jika tidak, akan terjadi negative spread (kondisi yang menunjukkan beban pembayaran suku bunga simpanan dari nasabah lebih besar ketimbang penerimaaan dari bunga atas kredit-kredit yang disalurkan perbankan. (Dewi, 2000)
Prospek saham perbankan sangat bergantung kepada kondisi fundamental yang dimilikinya, terutama bagaimana bank tersebut dapat tetap mempertahan atau meningkatkan core earning-nya (pendapatan inti) seperti margin bunga-nya, dan bagaimana bank tetap melakukan pertumbuhan kreditnya disamping juga dapat menekan jumlah kredit bermasalah yang relatif kecil dan bagaimana bank mengelola kredit bermasalahnya, seperti halnya juga mempertahankan kualitas kredit yang ada. Jangan lupa bahwa perbankan Indonesia pasca krisis-1997 telah melalui lingkungan suku bunga tinggi dan rupiah pada level Rp 9.000-an sehingga jika terjadi kenaikan suku bunga maupun lingkungan melemahnya rupiah seperti saat ini, mereka tetap profitable meskipun sedikit mengalami penurunan. Perlu dicermati bahwa tren melemahnya rupiah dan tren naiknya suku bunga sekarang ini berbeda dengan kejadian pada saat krisis ekonomi dulu dimana kebijakan suku bunga naik saat ini lebih banyak dilakukan untuk meredam laju inflasi karena pertumbuhan ekonomi dunia sudah tumbuh kearah yang lebih jelas, sehingga dengan pertumbuhan perekonomian tersebut perbankan Indonesia tetap akan ikut bertumbuh.  Susiyanto, Fendi, 2006, Prospek Saham Perbankan. [Online]. Didapatkan:
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0406/28/finansial/1113376.htm [4Maret 2006 ].

Dalam analisis investasi dan penilaian harga saham terdapat beberapa pendekatan. Pertama, analisis fundamental yang memberikan pedoman kepada investor sebelum melakukan keputusan Investasi. Investor biasanya menghitung lebih dulu nilai intrinsik saham dengan menggunakan data keuangan perusahaan   (misalnya laba, deviden yang dibayar, penjualan dan lain sebagainya) untuk kemudian berusaha menemukan mispriced assed yaitu selisih harga saham yang aktual dengan nilai intrinsiknya. Dari sini diperoleh keputusan membeli atau menjual saham. Secara analisis fundamental, investor akan membeli saham bila nilai intrinsiknya lebih besar dari harga pasarnya, karena nilai intrinsiknya adalah nilai yang menurut investor merupakan nilai rill dari saham perusahaan. Kedua, analisis teknis yang berfungsi untuk mengamati kecenderungan dan pola harga saham dan pasar modal. Alat ini dianggap mampu meramalkan perubahan harga saham dan masa mendatang yang didasarkan atas kegiatan perusahaan. (Jogiyanto, 2000).
Dalam transaksi di pasar modal investor dapat langsung meneliti dan menganalisis keuntungan masing-masing perusahaan yang menawarkan modal. Begitu mereka anggap menguntungkan dapat langsung membeli dan menjualnya kembali pada saat harga naik dalam pasar yang sama. Jadi dalam hal ini investor dapat pula menjadi penjual kepada para investor lainnya.(Kasmir, 2001)
Pasar modal yang efisien disini adalah sebagai pasar yang harga sekuritasnya mencerminkan semua informasi yang relevan. Semakin cepat informasi baru tercermin pada harga sekuritas semakin efisien pasar modal tersebut. (Jogiyanto, 2000).
klik for download :
bab 2
landasan teori
bab 3
metode penelitian
dan bab 4
pembahasan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar